Guru Panca Mulia

Guru Panca Mulia

Guru Panca Mulia

Selalu saya tulis dan katakan:

“Tidak ada profesi yang lebih istimewa  di muka bumi selain menjadi guru, Nabi Muhammad SAW pun mengatakan bahwa dirinya diutus Tuhan sebagai guru”.  Ditangan guru pula warga negara paling istimewa dibina, yakni anak didik. Tidak ada warga negara paling istimewa selain anak didik. Anak didik adalah pemilik dan pewaris negara dan bangsa.

Betapa beratnya menjadi guru yang profesional dan bermartabat.  Terutama sisi kelemahan pemerintah yang belum mampu mensejahterakan semua entitas guru, negeri maupun swasta, paruh waktu atau pun guru honorer.  Sambil menunggu “kesadaran” pemerintah dalam memartabatkan guru, ada sejumlah indikasi  seorang guru masuk kategori Guru Panca Mulia.

Apa Guru Panca Mulia itu? Pertama, niat awal dan dasar mengambil proifesi guru datang dari hati. Ingin menjadi guru sejak getaran cita cita muncul. Hati dan batinnya ingin menjadi guru, tanpa melihat realitas kesejahteraan guru. Niat awal menjadi guru karena senang dunia pendidikan dan dunia anak didik.

Kedua, selalu datang lebih awal di sekolah sebelum semua anak didiknya datang. Guru yang memberi contoh disiplin, serta ingin memastikan semua anak yang datang ke sekolah terpantau. Mulai dari datang ke sekolah sampai kembali pulang. Ia pun selalu hadir di ruang kelas seuai tuntutan jam KBMnya. Rasa cinta dan bangga pada profesi dan anak didik melekat pada dirinya.

Ketiga, selalu menempatkan semua anak didik sebagai subjek layanan. Pendekatan diferensiasi dan randomis dilakukan karena semua anak punya keberbedaan, keragaman dan latar belakang yang tak sama. Semua anak sama sama diistimewakan walau realitasnya sangat beragam.   Semua anak didik bagi guru adalah “anak kandung ideologis” yang harus menjadi pribadi berkarakter kuat di masa depan.

Keempat, memandang atasan, reakn sejawat sebagai “teman bertumbuh”. Bekerja sesuai tanggung jawabnya mencerdaskan anak bangsa. Gosip, ngerumpi dan friksi internal tidak dikenali, kecuali hanya kerja dan belajar menjadi pribadi dan guru yang bertumbuh.  Apa pun dinamika atasan dan sejawat adalah “ilmu” bagi dirinya.  Selalu menjadi bagian solutan bukan polutan bagi sekolah. 

Kelima, selalu punya karya yang bisa diberikan pada anak didik dan sekolahan. Tidak hanya setiap  bulan dapat gaji pokok, TPG, TPP dan tahunan dapat ke 13, ke 14, tapi selalu mampu menyumbang sesuatu untuk sekolahan dan anak didik.  Selalu punya prestasi yang membawa nama baik sekolah. Jauh dari meng_gibah dan meng_gosip, kecuali diskusi dan raihan prestasi. Taat pada pimpinan, menghoramti sejawat dan cinta tulus pada anak didik.

Sahabat pembaca, setidaknya Guru Panca Mulia (GPM) di atas menjadi “cubitan edukatif” bagi kita agar tetap trasformatif dan  reflektif. Sudah ideal dan benarkah kita menjadi guru. Apakah yang kita berikan pada negara lebih besar dari yang negara berikan pada kita sebagai guru? Guru Panca Mulia, setiap hari “memberi” bukan  “menuntut” karena Ia mulia.

Share: